
Bojonegoro, petroenergy.id — Analis Senior Departemen Operasi SKK Migas wilayah Jawa, Bali dan Nusa Tenggara (Jabanusa), Misbachul Munir, mengatakan survei seismik merupakan tahapan awal yang penting dalam kegiatan eksplorasi migas.
“Survei seismik 2D Lamturo berlangsung sejak Agustus 2026 hingga Januari 2027. Di Lamongan, survei dilakukan di 19 kecamatan dengan rincian 234 desa,” kata Misbachul dikutip Sabtu (5/9/2026).
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Survei Seismik 2D Lamongan-Tuban-Bojonegoro (Lamturo) yang berlangsung sejak Agustus 2026 hingga Januari 2027.
Survei seismik tidak serta-merta berarti pengeboran akan dilakukan. Ada proses panjang yang harus dilalui.
Secara sederhana, survei ini bekerja seperti membuat “peta” kondisi bawah permukaan. Gelombang yang dipancarkan ke dalam bumi akan memantul ketika mengenai lapisan batuan dengan karakter berbeda. Pantulan tersebut kemudian direkam dan diolah untuk mengetahui gambaran struktur geologi di bawah permukaan.
Dari sanalah para ahli mendapatkan petunjuk mengenai wilayah yang berpotensi menyimpan hidrokarbon.
Setelah data diperoleh, tahap berikutnya adalah pengolahan dan interpretasi data. Jika hasil kajian menunjukkan prospek yang menjanjikan, kegiatan dapat dilanjutkan ke tahap eksplorasi berikutnya, termasuk pengeboran.
“Survei dilakukan dengan merekam gelombang pantulan dari lapisan batuan di bawah permukaan bumi. Data tersebut digunakan untuk memetakan struktur geologi dan memperkuat indikasi potensi cadangan yang telah teridentifikasi sebelumnya,” ujar Misbachul.
Ada alasan mengapa kegiatan seperti ini menjadi penting bagi industri hulu migas.
Produksi dari lapangan-lapangan migas yang sudah beroperasi pada akhirnya akan mengalami penurunan secara alamiah. Sementara kebutuhan energi terus berjalan.
Karena itu, penemuan cadangan baru menjadi salah satu kunci untuk menjaga keberlanjutan produksi migas nasional.
“Penemuan cadangan baru menjadi kebutuhan karena produksi minyak dan gas secara alamiah akan mengalami penurunan. Karena itu, survei seismik menjadi tahapan yang penting dalam rangkaian eksplorasi,” kata Misbachul.
Survei Lamturo sendiri tidak hanya menyasar Lamongan.
Kegiatan tersebut juga mencakup dua kecamatan di Kabupaten Tuban dan 16 kecamatan di Kabupaten Bojonegoro. Dengan cakupan tersebut, survei diharapkan memberikan gambaran lebih utuh mengenai potensi struktur geologi di kawasan tersebut.
Pelaksanaan survei dilakukan oleh PT Bureau Geophysical Prospecting (BGP) Indonesia, perusahaan yang bergerak di bidang jasa survei geofisika dan seismik terintegrasi, terutama untuk sektor minyak dan gas bumi.
Di lapangan, pekerjaan survei seismik bukan hanya soal merekam gelombang.
Ada serangkaian tahapan yang harus dilalui. Mulai dari perizinan dan sosialisasi kepada masyarakat, penyiapan lintasan, pendataan awal, drilling dan preloading, perekaman data, pendataan akhir, pembayaran kompensasi, hingga pembersihan dan reklamasi lintasan.
Artinya, keberhasilan survei juga membutuhkan dukungan masyarakat dan pemerintah daerah.
Seperti dilansir ruangenergi.com edis hari ini Bupati Lamongan Yuhronur Efendi mengatakan pemerintah daerah mendukung pelaksanaan survei tersebut.
Menurutnya, eksplorasi penting dilakukan untuk mencari sumber energi baru sekaligus menjaga keberlanjutan produksi migas nasional.
“Kami membuka ruang seluas-luasnya dan siap mendukung. Harapannya, hasilnya memberikan manfaat bagi masyarakat Lamongan serta kepentingan bangsa dan negara,” kata Yuhronur.
Ia berharap potensi sumber daya alam yang tersimpan di wilayah Lamongan tidak berhenti sebagai data di atas peta.
Jika nantinya ditemukan cadangan migas yang ekonomis untuk dikembangkan, potensi tersebut diharapkan dapat ikut menopang kebutuhan energi sekaligus menciptakan manfaat ekonomi bagi masyarakat dan daerah.
Sebab, dari 234 desa yang kini menjadi bagian dari lintasan survei, boleh jadi tersimpan cerita besar tentang masa depan energi Indonesia. mk/*
