Bandung, petroenergy.id — PT Pertamina Hulu Energi (PHE) meningkatkan pengelolaan keandalan aset sebagai salah satu kunci menjaga produksi migas sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

Disampaikan Vice President Drilling & Well Intervention PHE Fata Yunus mengatakan dalam Forum Fasilitas Produksi Migas (FFPM) 2026 di Bandung, 1–3 September 2026. Dalam paparannya bertajuk “National Energy Security: The Strategic Role of PHE Asset Management Strategy”, Fata memaparkan tantangan sekaligus strategi PHE dalam mengelola aset migas yang tersebar luas dan sebagian telah memasuki fase mature. 

PHE saat ini memiliki portofolio domestik yang mencakup 40 Wilayah Kerja (WK), terdiri atas 27 WK sebagai operator dan 13 WK non-operator. Secara keseluruhan, aset PHE tersebar di 20 cekungan dari 128 cekungan yang ada di Indonesia.

Dari portofolio tersebut, PHE mencatat total produksi sekitar 1 juta BOEPD, dengan produksi domestik sekitar 800 ribu BOEPD. Kontribusi terhadap produksi nasional mencapai sekitar 65% untuk minyak dan 35% untuk gas. 

Namun, besarnya portofolio tersebut sekaligus menghadirkan tantangan. PHE mengelola aset yang bersifat massive, mature, dan scattered atau tersebar di berbagai lokasi. Aset-aset mature menghadapi natural decline yang tinggi, sementara usia fasilitas yang sebagian telah lebih dari 30 tahun turut memengaruhi ketersediaan produksi dan integritas aset. 

Menurut materi PHE, pengelolaan fasilitas produksi menjadi semakin penting karena perusahaan harus menjaga keseimbangan antara delivery produksi jangka pendek, penggantian cadangan, dan pertumbuhan bisnis jangka panjang.

PHE mencatat tren penurunan Loss of Production Opportunity (LPO) pada fasilitas permukaan sejak 2022. Kondisi tersebut mencerminkan adanya peningkatan kinerja keandalan aset, antara lain melalui implementasi Asset Integrity Management System (AIMS) sejak 2023.

Meski demikian, tantangan tetap muncul. Pada 2025, LPO kembali meningkat akibat sejumlah kejadian, termasuk force majeure banjir di Sumatera, gangguan kelistrikan di WK Rokan dan OSES, serta insiden operasional di Subang. 

Skala fasilitas yang harus dikelola PHE juga tidak kecil. Dalam paparannya, PHE mencatat memiliki sekitar 25.942 kilometer pipeline, 367 platform, 10 lokasi onshore receiving facilities, 8 floating storage and offloading (FSO), lebih dari 9.000 rotating equipment, lebih dari 112 gathering station, lebih dari 70.000 static equipment, serta lebih dari 40.000 electrical equipment.

Karena itu, strategi pengelolaan aset diarahkan pada tiga sasaran utama, yakni menjaga integritas dan keandalan aset, mempertahankan baseline produksi, serta mengamankan peluang ekspansi dan perpanjangan usia aset (life extension). 

PHE menyiapkan tujuh pilar strategis dalam pengelolaan aset, yaitu asset data; criticality & risk; maintenance & reliability; material readiness; asset lifecycle; governance; serta digital & optimization.

Strategi tersebut diperkuat dengan program besar asset integrity & reliability untuk periode 2024–2027. Program mencakup berbagai pekerjaan penggantian dan peningkatan fasilitas, pemeliharaan, hingga penguatan keandalan peralatan produksi. 

Pada 2026, PHE juga mengalokasikan 11,51% dari total anggaran investasi (CAPEX) untuk Production Facility Management. Fokusnya mencakup program asset integrity & reliability, percepatan perbaikan dan pemeliharaan utama seperti PRRP, plant turnaround, major equipment overhaul, serta perbaikan tangki timbun.

Selain itu, PHE menjalankan pulse check dan risk control di seluruh lapangan guna memastikan efektivitas pengelolaan risiko, keselamatan operasi, dan keandalan aset. 

Menariknya, prognosis asset integrity PHE 2024–2029 menunjukkan fondasi keandalan yang semakin kuat.

Dalam materi yang dipaparkan Fata, 89% aset berada pada status High, dan tren peningkatan keandalan diproyeksikan berlanjut hingga 2029. Peningkatan tersebut diharapkan memberikan dampak langsung berupa meningkatnya keandalan aset, optimalisasi biaya, produksi yang lebih berkelanjutan, serta penurunan risiko dan kecelakaan. 

Penguatan asset integrity tersebut bukan sekadar persoalan menjaga fasilitas tetap beroperasi. Bagi PHE, keandalan aset menjadi salah satu fondasi untuk mengejar target yang lebih besar.

PHE menargetkan produksi 1 juta BOPD pada 2029. Karena itu, menjaga fasilitas tetap andal, memperpanjang usia aset, mengendalikan risiko, sekaligus mengoptimalkan biaya menjadi bagian penting dari strategi perusahaan.

Di sisi lain, PHE tetap menjalankan strategi pertumbuhan ganda (dual growth strategy), yakni memaksimalkan bisnis legacy sekaligus membangun bisnis rendah karbon. Pada bisnis legacy, strategi mencakup eksplorasi berdampak tinggi, pengembangan dan EOR, unconventional oil & gas, percepatan resources to reserves, komersialisasi gas, efisiensi biaya, kemitraan serta merger dan akuisisi. Sementara bisnis rendah karbon diarahkan antara lain pada CCS/CCUS dan natural hydrogen. 

Dengan strategi tersebut, pengelolaan fasilitas produksi tidak lagi sekadar aktivitas pemeliharaan. Asset management menjadi bagian strategis PHE untuk memastikan produksi hari ini tetap berjalan, sekaligus membangun fondasi ketahanan energi Indonesia untuk tahun-tahun mendatang.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *