Jakarta, petroenergy.id — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus mengancam sejumlah wilayah operasi hulu minyak dan gas bumi (migas), Rabu, 26 Agustus 2026, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) melaporkan ada empat Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) berada dalam status tanggap darurat.

Menurut laporan harian karhutla hulu migas yang disusun Kelompok Kerja K3LL, Divisi Penunjang Operasi SKK Migas, menunjukkan empat KKKS tersebut yakni PT Bumi Siak Pusako di wilayah Sumbagut, PT Sele Raya Belida dan PEP Prabumulih di Sumbagsel, serta BP Berau di wilayah Pamalu.

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto membenarkan situasi tanggap darurat tersebut pada Rabu, 26 Agustus 2026. Data SKK Migas memperlihatkan kondisi karhutla di wilayah hulu migas masih membutuhkan perhatian serius, terutama di sejumlah area operasi yang masuk kategori siaga maupun tanggap darurat.

Selain kategori empat KKKS tanggap darurat, ada enam KKKS lainnya dalam status siaga. Yaitu, PHR Zona Rokan, Pertamina EP Regional 1 Zona 4 Limau Field, Pertamina EP Zona 4 Ramba Field, PEP Jambi Field, PHE Sanga Sanga, dan Pertamina Hulu Mahakam.

Secara umum, grafik status karhutla hulu migas pada 26 Agustus menunjukkan 61 area atau 68% berada dalam kondisi aman. Sementara itu, 19 area atau 21% masuk kategori waspada, enam area atau 7% berstatus siaga, dan empat area atau 4% berada dalam status tanggap darurat.

Menyinggung karhutla di wilayah perwakilan, Sumbagsel, ada salah satu kawasan yang mendapat perhatian serius. Yaitu, PT Sele Raya Belida dan PEP Prabumulih yang berstatus tanggap darurat, Pertamina EP Regional 1 Zona 4 Limau Field, Pertamina EP Zona 4 Ramba Field, dan PEP Jambi Field tercatat dalam status siaga.

Sementara di Sumbagut, status tanggap darurat tercatat pada PT Bumi Siak Pusako, sedangkan PHR Zona Rokan berada pada level siaga. Di wilayah Kalsul, PHE Sanga Sanga dan Pertamina Hulu Mahakam berstatus siaga. Adapun BP Berau menjadi KKKS berstatus tanggap darurat di wilayah Pamalu.

Data ini menggambarkan bahwa karhutla bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga menjadi tantangan operasional bagi kegiatan hulu migas. Status siaga dan tanggap darurat menuntut kewaspadaan lebih tinggi agar aktivitas produksi tetap berjalan aman sekaligus memastikan keselamatan pekerja dan lingkungan di sekitar wilayah operasi.

Laporan 26 Agustus 2026 juga memperlihatkan perubahan dibandingkan sehari sebelumnya. Pada laporan 25 Agustus, terdapat enam KKKS yang berada dalam status tanggap darurat, termasuk PHR Zona Rokan, Pertamina EP Regional 1 Zona 4 Pendopo Field, dan PT EMP Energi Riau.

Sehari kemudian, jumlah KKKS berstatus tanggap darurat turun menjadi empat. Namun, munculnya beberapa wilayah baru dalam daftar siaga menunjukkan situasi karhutla masih dinamis dan membutuhkan pemantauan berkelanjutan.

Bagi industri hulu migas, kondisi ini menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan menghadapi karhutla harus berjalan beriringan dengan keberlangsungan operasi. Pemantauan titik rawan, kesiapan personel, serta koordinasi penanganan menjadi bagian penting untuk memastikan ancaman api tidak berkembang menjadi gangguan yang lebih besar terhadap kegiatan hulu migas.

Laporan harian SKK Migas tersebut diterbitkan pada 26 Agustus 2026 oleh Kelompok Kerja K3LL, Divisi Penunjang Operasi.(mk)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *