Jakarta, petroenergy.id — Kepala SKK Migas Djoko Siswanto mengatakan, dari 20 Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) dengan produksi terbesar, ExxonMobil Cepu Ltd dan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) menjadi dua KKKS dengan realisasi produksi yang paling jauh di bawah target.

Djoko Suswanto mengemukakan hal itu saat megonfirmasi hasil pantauan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) yang  sebelumnya, menyebutkan realisasi produksi minyak, kondensat, dan natural gas liquid (NGL) nasional pet 31 Juli 2026 mencapai 578.156 barel per hari (bph).

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto

Angka tersebut baru mencapai 94,8% dari target produksi terangkut (lifting) minyak pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 sebesar 610.000 bph.

Namun demikian, kedua perusahaan minyak tersebut masih menduduki sebagai produsen minyak terbesar nasional.

“Yang paling parah adalah ExxonMobil dan Pertamina Hulu Rokan yang tadi sudah saya sampaikan, Pak Dirjen maupun saya jelaskan, itu totalnya dari dua KKKS 54.500, itu yang di bawah target,” kata Djoko Siswanto dikutip Kamis (27/8/2026).

Berdasarkan data SKK Migas per 31 Juli 2026, ExxonMobil Cepu mencatat realisasi produksi sebesar 124.266 bph dari Blok Cepu. Angka tersebut masih di bawah target yang ditetapkan di dalam APBN 2026 sebesar 148.500 bph atau baru sebesar 83,7% dari target.

Sementara, PHR membukukan produksi sebesar 133.581 bph dari Blok Rokan, Riau. Angka tersebut masih di bawah target yang ditetapkan dalam APBN sebesar 163.859 bph atau baru 81,5% dari target.

Dia menjelaskan, untuk produksi di Blok Rokan terkendala karena adanya insiden kebocoran pipa gas yang dioperasikan PT Transportasi Gas Indonesia (TGI) pada awal 2026. Insiden ini mengakibatkan gangguan produksi atau penyaluran di 9 Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) shipper dan supplier gas Terminal Dumai, antara lain PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), Bumi Siak Pusako (BSP), SPR Langgak, APGWI, EMP Gandewa, EMP Tonga, PHE Jambi Merang, MEPG, dan PetroChina Jabung.

Selain itu, di Rokan juga terjadi gangguan penyediaan listrik dari pihak MCTN, sehingga mengakibatkan PHR tidak dapat berproduksi optimal.

Sementara di Blok Cepu yang dikelola ExxonMobil Cepu Ltd karena ada gangguan pada reservoir.

“Exxon karena masalah reservoir atau masalah ngambek, itu belum diberikan insentif. PHR tadi sudah sampaikan, sampai hari ini MCTN belum selesai, adanya pipa putus dan rig yang sempat dihentikan,” katanya.

Berikut daftar 10 produsen minyak terbesar RI per 31 Juli 2026:

  1. PTPertamina Hulu Rokan: 133.581 bph
  2. ExxonMobilCepu Ltd.: 124.266 bph
  3. PTPertamina EP: 76.568 bph
  4. PetroChinaInternational Jabung Ltd.: 27.363 bph
  5. PTPertamina Hulu Energi ONWJ: 26.832 bph
  6. PTPertamina Hulu Mahakam: 26.394 bph
  7. MedcoE&P Natuna Ltd.: 24.375 bph
  8. PTPertamina Hulu Energi OSES: 18.038 bph
  9. PTPertamina Hulu Sanga Sanga: 15.064 bph
  10. JOBPertamina – Medco E&P Tomori Sulawesi: 9.579 bph

Dan lain-lainnya, total 578.156 bph atau masih 94,8% dari target 610.000 bph pada 2026. mk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *