Wakil Direktur Utama Pertamina (Persero), Oki Muraza

Jakarta  petroenergy.id – Wakil Direktur Utama PT Pertamina, Oki Muraza, menyebutkan Natural Hydrogen Task Force Pertamina telah mencapai tonggak baru dalam pengembangan bisnis hidrogen alami.

Dilansir ruangenergi.com edisi Selasa (18/8), Oki mewacanakan, kedepan natural hydrogen bukan sekadar proyek baru, akan tetapi energi ini merupakan bagian dari portofolio hulu yang berada pada tahap kematangan berbeda dan membutuhkan strategi pengelolaan tersendiri.

“This is where geological hydrogen fits in,” begiu kata Oki menilainya.

Menurut Oki, ada empat kelompok besar dalam portofolio proyek hulu Pertamina. Pertama, proyek dengan teknologi yang sudah terbukti tetapi membutuhkan peningkatan skala dan dukungan perizinan lintas kementerian.

Kedua, proyek yang sudah memiliki sumber daya sekaligus teknologi yang terbukti, namun masih membutuhkan scaling up. Chemical Enhanced Oil Recovery (EOR) menjadi salah satu contohnya.

Ketiga, sumber daya unconventional yang tidak hanya membutuhkan teknologi, tetapi juga ekosistem rantai pasok.

Sementara kelompok keempat adalah proyek yang memiliki potensi sangat besar, namun regulasi dan teknologinya masih berkembang.

Natural hydrogen masuk ke kelompok keempat.

Oki menjelaskan, natural hydrogen atau geological hydrogenyang juga kerap disebut gold hydrogen atau white hydrogen merupakan hidrogen yang terbentuk secara alami di bawah permukaan bumi.

Berbeda dengan hidrogen yang diproduksi melalui elektrolisis air atau steam reforming, hidrogen alami terbentuk melalui proses geologi.

Salah satu mekanisme utamanya adalah serpentinization, ketika air berinteraksi dengan batuan ultramafik yang kaya zat besi seperti olivin.

Dalam proses tersebut terjadi reaksi redoks. Besi mengalami oksidasi dan elektron yang dilepaskan kemudian berperan dalam mereduksi molekul air, menghasilkan gas hidrogen (H₂).

Dengan kata lain, alam memiliki “pabrik hidroen” sendiri.

Pertanyaan berikutnya adalah: seberapa besar Indonesia memiliki sumber daya tersebut? Jawabannya mulai terlihat dari pekerjaan eksplorasi yang dilakukan Pertamina Hulu Energi (PHE).

Berdasarkan paparan yang dibaca RuangEnergi.com, PHE dalam dua tahun terakhir telah menjalankan tahapan reconnaissance untuk mencari indikasi keberadaan natural hydrogen.

Langkahnya dilakukan melalui survei geologi regional, geofisika dan geokimia.

Pada 2024, PHE dan Upper Exploration Production Joint Study melakukan Regional Study. Kajian tersebut mencakup pemetaan kejadian seafloor terkait hydrogen, pengukuran aliran, mekanisme pembentukan sumber, model geologi hingga basin capacity.

PHE mengidentifikasi mekanisme serpentinization yang dapat menghasilkan natural hydrogen di wilayah Sulawesi bagian timur. Kajian tersebut juga mengindikasikan potensi volume hidrogen sekitar 245 hingga 1.381 TCF.

Memasuki 2025, PHE melanjutkan pekerjaan melalui G&G Survey bersama PHE dan PG/PSG. Survei multidata tersebut mencakup gravitasi, magnetik, MT, geokimia, serta survei geologi dan hidrologi.

Hasilnya antara lain menunjukkan indikasi sistem hidrogen yang telah teridentifikasi di wilayah AmponA AOI, termasuk indikasi ultramafic ophiolite dan karbonat.(mk)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *