Investment

Proyek Masela Kesempatan Emas Untuk Membangun Daya Saing Bangsa

img title

Petroenergy.id, Surabaya – Dalam rangka mengkomunikasikan pelaksanaan proyek strategis nasional dan membangun kolaborasi dari berbagai pihak untuk mewujudkan proyek tersebut agar dapat selesai sesuai jadwal dengan biaya yang efisien dan memenuhi standar dari aspek kualitas, SKK Migas terus menyampaikan perkembangan dan membangun dukungan dari berbagai pihak .

Kali ini, bekerjasama dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, SKK Migas mendukung penyelenggaraan Focus Group Discussion (FGD) Penguatan Industri Migas untuk proyek Masela pada hari Kamis, 29 Agustus 2019 di Auditorium Gedung Research Center lt 11 kampus ITS Sukolilo Surabaya.

FGD tersebut mengambil tema "Peningkatan Kapasitas Penguasaan Teknologi Laut Dalam Melalui Pengembangan Lapangan Abadi Masela". Hadir sebagai narasumber adalah : Dr. Ir. Dwi Soetjipto, MM (Kepala SKK MIGAS), Ir Nico Muhyiddin (Vice President Inpex Coorporation), Ir. Budiman Saleh, MS, PhD (Direktur Utama PT PAL Indonesia),Dr. Eliza de Fretes (Perwakilan Universitas Pattimura, Ambon), Prof Dr Ketut Buda A ST, MSc (Guru Besar ITS), dan sebagai moderator adalah Prof Dr Ir Eko Budi Jatmiko (Guru Besar Fakultas Teknologi Kelautan ITS). Acara FGD tersebut dibuka oleh Rektor ITS Prof. Dr. Ir. Mochamad Ashari, MEng.

Acara FGD tersebut dihadiri oleh sekitar 240 peserta yang terdiri dari KKKS, industri perkapalan, perusahaan inspeksi, logistik, fabrikasi dan lainnya, serta dihadiri pula oleh perwakilan beberapa PTN dan PTS di Jawa Timur serta dosen dan mahasiswa ITS.

Pada kesempatan tersebut Rektor ITS menyampaikan terima kasih kepada SKK Migas yang telah mendukung pelaksanaan FGD, serta mengharapkan kepada Pemerintah, SKK Migas dan INPEX untuk membuka peran perguruan tinggi untuk terlibat di proyek Abadi, karena momen proyek Abadi Abadi Masela adalah kesempatan membangun kualitas SDM bangsa dan meningkatkan kualitas perguruan tinggi agar dimasa mendatang output yang dihasilkan semakin baik dan sesuai kebutuhan industri. ITS memiliki kompetensi dari aspek keilmuan maupun berbagai fasilitas penelitian. Saat ini ITS memiliki 8 research center dan mendapatkan pengakuan dari berbagai pihak.

Narasumber dari INPEX, Ir Nico Muhyiddin menyampaikan bahwa INPEX telah hadir sejak 1967 di Indonesia atau lebih dari 50 th, pertama kali di mengembangkan lapangan Balikpapan. Pada 1999 INPEX mengebor di Masela. Ditemukan sumur pertama kali th 2000. Sejak hadir di Masela, INPEX telah dibantu ITS dan Univ Pattimura dan terus disupport SKK Migas.

INPEX menyampaikan terima kasih kepada SKK Migas yang telah memberikan Persetujuan POD di Juli 2019. Langkah kedepan akan banyak pekerjaan di darat dan laut serta diluar wilayah operasi di Masela. Akan ada pekerjaan yang dilakukan di Batam sampai Papua. Harapannya adalah keterlibatan vendor dari teknologi, jasa dan service, serta manpower. Termasuk Universitas diharapkan keterlibatan sesuai disiplin ilmu tertentu dan operator.

Adapun narasumber dari PT PAL menyampaikan peta industri galangan kapal nasional dan secara khusus kesiapan PT PAL dalam mendukung proyek Masela.

Sedangkan narasumber dari ITS dan Universitas Pattimura dapat menjadi partner dalam penyiapan sumber daya manusia maupun penyiapan program penelitian maupun pengembangan yang menunjang pemanfaatan potensi migas laut dalam.

Hal ini dapat dinyatakan dengan kegiatan semacam penelitian bersama, joint working project maupun training dan pelatihan terkait.

Kepala SKK Migas, Dwi Soetjipto menyampaikan bahwa proyek Masela adalah momentum bangsa Indonesia membangun kemandirian teknologi dimasa mendatang. Investasi pembangunan kilang di Masela yang mencapai USD 19,8 miliar tentu memberikan dampak ekonomi yang signifikan, terlebih penggunaan lokal konten pada proyek tersebut.

Pemberdayaan lokal people, terkait aspek SDM di proyek Masela, menjadi kesempatan emas bagi anak bangsa untuk terlibat, serta peran perguruan tinggi untuk dapat berkolaborasi dengan INPEX salah satunya dengan penyiapan tenaga kerja Indonesia termasuk tenaga kerja lokal agar siap dan memiliki kompetensi yang dibutuhkan di proyek Masela

Pada sesi diskusi, umumnya peserta FGD mengharapkan agar Indonesia mampu menggunakan momentum pengembangan Lapangan Gas Abadi Masela dalam penguasan teknologi laut dalam, jangan sampai menjadi kerugian jangka panjang bangsa Indonesia.

Bila ini terjadi maka masyarakat Indonesia tidak akan banyak berperan dalam fase pengembangan maupun dalam fase operasinya nanti. Otomatis, penguasaan teknologi beserta kegiatan turunannya tidak akan menjadi bagian dari Indonesia. Kita perlu belajar dari apa yang terjadi di lapangan Gas Arun yang saat ini sudah berhenti beroperasi yang tidak memberikan dampak pada kemampuan penguasaan teknologi anak bangsa. [str] beritaskkmigas.go.id

ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small

Job Posting

No job posted

Oil Price

Exchange Rate

All Category