
Sentul, Petroenergy.id– Direktur Utama PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Muhammad Arifin mengatakan, PHR merupakan penggerak perekonomian nasional dengan menyumbang sekitar 33 persen dari produksi minyak nasional.
Muhammad Arifin menegaskan hal itu kepada wartawan dalam sambutannya saat membuka Media Gathering Pertamina Regional I Sumatra yang berlangsung di The Alana Hotel, Sentul – Bogor, Jawa Barat, Rabu (29/7/2026).
“Nah, sebagai penggerak perekonomian nasional, produksi PHR tidak boleh turun. Bayangkan kalau ada gangguan sedikit saja di Sumatera, dampaknya langsung terasa terhadap produksi nasional. Karena itu kami di Rokan tak oernah lelah terus didorong oleh SKK Migas untuk mempercepat setiap potensi produksi baru,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut ia menegaskan bahwa komunikasi yang intensif dengan media harus terus diperkuat agar masyarakat memperoleh gambaran utuh mengenai tantangan dan pencapaian sektor hulu migas.
“Media gathering seperti ini sangat penting. Bukan sekadar bersilaturahmi, tetapi juga membangun komunikasi dua arah dan menyusun narasi bersama untuk mendukung target pemerintah yang diamanahkan kepada SKK Migas dan Pertamina sebagai tulang punggung industri hulu migas nasional,” ujarnya.

Arifin yang mengaku baru sekitar tujuh bulan memimpin PHR, menjelaskan, struktur Subholding Upstream Pertamina terdiri dari Petamina Regional I Sumatra, Pertamina Regional II Jawa, Pertsmina Regional III Kalimantan, Pertamina Regional IV Indonesia timur dan Pertamina Regionsl V Intetnadional
Menurutnya, Regional 1 Sumatera, terdiri dari Zona 1: Meliputi area Aceh, Sumatera Utara, Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan (seperti lapangan Rantau, Pangkalan Susu, Lirik, dan Jambi Merang). Zona 2 dan Zona 4: Mencakup Wilayah Kerja (WK) Rokan di Riau serta lapangan migas di Sumatera Selatan seperti Prabumulih, Limau, Adera, Pendopo, dan Ramba.
Kontribusi dari zona-zona tersebut, katanya, sangat besar terhadap pasokan energi nasional. Produksi minyak Regional 1 Sumatera saat ini mencapai sekitar 199 ribu barel per hari (BOPD) atau sekitar 33 persen produksi minyak nasional. Sementara produksi gas mencapai sekitar 700 juta kaki kubik per hari (MMscfd) yang menjadi penopang kebutuhan energi dan aktivitas ekonomi di Sumatera, bahkan sebagian dialirkan ke Pulau Jawa melalui jaringan pipa antarpulau.
Arifin mengungkapkan, tantangan terbesar industri hulu migas adalah laju penurunan alami (natural decline) lapangan migas yang dapat mencapai sekitar 30 persen per tahun apabila tidak dilakukan pengeboran maupun pengembangan lapangan baru.
Untuk menjaga produksi tetap stabil, PHR menjalankan program pengeboran secara agresif. Di Zona Rokan saja, perusahaan mengeborkan hampir 500 sumur setiap tahun, sementara di Zona 4 sekitar 100 sumur, dan puluhan sumur lainnya di Zona 1. Aktivitas pengeboran tersebut menjadikan Sumatera sebagai wilayah dengan intensitas pengeboran terbesar di lingkungan Pertamina.
Selain mempertahankan produksi, PHR juga memperkuat komitmen terhadap transisi energi. Salah satunya melalui pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di wilayah operasi Rokan yang memiliki kapasitas sekitar 25 megawatt, menjadikannya salah satu fasilitas PLTS terbesar yang dimiliki sektor hulu migas nasional. (mk)
