Profile

Raih Tambahan Pendapatan US$ 1,65 Juta/Tahun

img title

Jakarta,  petroenergy.id -- Meski kondisi tatanan geopolitik di kawasan Timur Tengah sedang bergejolak akibat embargo Arab Saudi dan mitranya terhadap Qatar, geliat harga crude dunia belum mampu diprediksi lebih jauh dari seputar US$ 50-an per barel.

"Krisis tersebut bersifat eksternal yang sulit diintervensi pihak manapun dalam jangka pendek. Langkah yang paling bijak adalah memanfaatkan situasi, itu untuk memacu perbaikan internal, baik bersifat peningkatan kesisteman maupun profesionalisme Sumber Daya Manusia (SDM),” tegas Direktur Hulu Pertamina, Syamsu Alam dalam berbagai kesempatan.

Dalam upaya menjalankan kebijakan operation excellent, fungsi Upstream Asset Optimization di bawah Upstream Strategic Planning And Operation Evaluation (USPOE) berhasil melakukan pengurangan Loss Production Opportunity (LPO),  dengan optimalisasi program maintenance melalui reformulasi metode perhitungan reliability & availability. Sistem yang digunakan adalah system wise di Lapangan Poleng (Pertamina EP).

Sebelum diterapkannya metode ini, dampak negatif yang timbul adalah tidak tercapainya target produksi minyak dan gas; tidak tercapainya target revenue; ketidakhandalan fasilitas produksi; sering terjadi unplanned shutdown; angka Loss Production Opportunity (LPO) meningkat.

"Berdasarkan data LPO periode Januari 2014 – Juni 2015 sebesar 153.000 barel (bbl) dengan rata-rata per tahun sebesar 102.000 bbl. Akibatnya, bermuara pada  loss opportunity revenue Pertamina sebesar ± US$ 5,1 juta (asumsi ICP US$ 50 per bbls),” ungkap Syah Afgani, Assistant Manager Upstream Production Facilities.

Afgan menuturkan, angka sebesar itu disebabkan oleh sistem perhitungan, yang hanya didasarkan pada major equipment saja, tidak atas critical to production. Hal ini   mengakibatkan tidak adanya korelasi antara perhitungan reliability dan availability eksisting terhadap LPO.

“Setelah diterapkannya metode perhitungan reliability & availability menggunakan system wise, LPO akibat unplanned shutdown surface facilities Poleng Field menjadi rata-rata 33.000 bbls  per tahun dengan reliability ± 98% dan mampu memaksimalkan revenue Pertamina dari loss sebesar ± US$ 1,65 juta/tahun,” tambah Afgan.

Sejak dioperatori Pertamina pada 2013, produksi Poleng Field terus naik. Peningkatannya pernah mencapai 40% lebih tinggi dibandingkan saat dikelola operator sebelumnya perusahaan Korea Selatan (KODECO), yang hanya mampu memproduksi 2.030 barel minyak per hari (BOPD).

Dalam kondisi efisiensi ketat, produksi minyak Poleng Field pada 2016 kemarin rata-rata 2.858 BOPD atau 100,5% dari target RKAP 2016 (2.843 BOPD). Sementara produksi gas sebanyak 5,45 juta kaki kubik gas perhari (MMSCFD) atau 126,3% terhadap RKAP 2016 (4,32MMSCFD).

“Produksi Lapangan Poleng bersumber dari empat anjungan (platform), yakni anjungan AW, BW, CW, dan DW yang berlokasi di lepas pantai Jawa Timur Utara,” pungkas Afgan. (san)

ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small

Job Posting

No job posted

Oil Price

Exchange Rate

All Category