Other

Konsisten dengan Kebijakan Jangka Panjang - Subroto : Konsensus Energi Nasional, Sangat Penting

img title

petroenergy.co, Jakarta - Sebagai Menteri Pertambangan dan Energi (1978 – 1988) Subroto merasa was-was melihat inkonsistensi kebijakan jangka panjang di bidang energi baru terbarukan (EBT). Oleh karena itu, ia mengusulkan perlu adanya konsensus energi nasional yang dijabarkan dalam bentuk roadmap yang kemudian substansinya dituangkan dalam undang-undang (UU).

Usul Subroto itu disampaikan oleh Michael Sumarijanto (Direktur Pelaksana Bimasena) pada  diskusi RUU Energi Terbarukan dengan tema “Peran  Undang-Undang EBT dalam Mendorong Transisi Energi di Indonesia bersama METI dan Pemangku Kepentingan” di Direktort Jenderal EBTKE, Jakarta, Kamis (11/7/2019).

Konsesnsus energi nasional, kata Subroto, sangat diperlukan untuk mengetahui seperti apa  roadmap ketahanan  energi nasional. “Konsensus energi nasional, itu penting sekali pada saat awal kita memulai. Kemudian roadmap kita itu seperti apa. Itu harus dituangkan dalam konsep konsensus energi nasional. Kemudian, diundangakan dalam UU agar Presiden dan menteri-menterinya dapat mengetahunya,” kata Subroto seperti dikutip pak Michael Sumarijanto.

Menanggapi usul Subroto tersebut diatas, Ketua Umum METI, Surya Darma  sependapat dan mendukung usulan itu. Menurut Surya Darma, usulan itu dimaksudkan agar implemntasi UU jangka panjang di sektor EBT tidak berubah-beruah  alias konsisten.

“Saya kira apa yang diusulkan oleh pak broto (Subroto—red), itu sangat penting. Dimana, kita harus melihat kebijakan jangka panjang yang harus dijalanan secara konsiten. Sebenaranya, kalau melihat kebijakan jangka panjang kita sekarang, ini  sudah klir, tinggal apakah kita konsiten dengan kebiajakn ini, barangkali itu yang dimaksudkan pak Broto,” kata Surya Darma.

Namun, kalau dilihat dari pencapaian porsi EBT di sektor listrik dan non listrik sampai akhir 2018  lalu, baru mencapai 8 persen dari baruran energi nasional dari target 23 persen yang ditetapkan di Rencana Umum Energi Nasional (RUEN). Artinya, Indonesia masih harus meningkatkan 15 persen lagi untuk mencapai target.

Subroto melihat, capaian tersebut masih di bawah target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 sebesar 16 persen. Kapasitas pembangkit energi juga tumbuh rata-rata di bawah 250 MegaWatt (MW) periode 2015-2018 lebih rendah dari pertambahan di periode 2010-2014. (MK)

ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small

Job Posting

No job posted

Oil Price

Exchange Rate

All Category