Event

Jonan Serahkan Award di Acara IBEA 2017

img title

 

Jakarta, petroenergy.id -- Malam puncak acara penganugrahan IBEA 2017, yang berlangsung pada 23 Nopember, telah memberikan nuansa yang meriah dan berkesan bagi peserta pameran dan para finalis. Pasalnya, para finalis IBEA 2017 memberikan kemampuan terbaiknya dengan didukung para supporter masing-masing untuk melewati proses penilaian oleh para Dewan Juri IBEA 2017 yang total beranggotakan 17 orang, berasal dari berbagai disiplin ilmu dan profesi seperti pakar kelistrikan, akademisi, pengamat, jurnalis, hingga politisi yang mumpuni di bidangnya.

Akhirnya, Dewan Juri yang diketuai oleh  Dr. Ir. Tumiran, M.Eng, telah memutuskan para pemenang di ajang IBEA 2017, untuk 15 kategori yang dilombakan, berikut peraih The Best IBEA 2017:

1. PT SIEMENS INDONESIA (The Best Digital Technology Electricity Company)

2. PT LESTARI BANTEN ENERGI (The Best Efficiency Power Plant)

3. PT. PURA MAYUNGAN (The Best Local Content Electricity Company)

4. PT. INDONESIA POWER (The Best CSR Electricity Company)

5. PT. GH EMM INDONESIA  (The Best Innovation Electricity Company)

6. PT. JAWA POWER (The Best Environmentally Concerned Electricity Company)

7. PT. VOKSEL ELECTRIC TBK  (The Best Electrical Supporting Company: MDU Jaringan)

8. PT ECOLAB INTERNATIONAL INDONESIA (The Best Electrical Supporting Company: MDU Non Jaringan)

9. SARULLA OPERATIONS LTD (The Best New Comer Power Plant Company)

10. PT PEMBANGKITAN JAWA BALI  (The Best Power Plant < 10 MW)

11. PT. MITRA ENERGI BATAM (The Best Power Plant 10 - 100 MW)

12. PT INDONESIA POWER - UNIT PEMBANGKIT SURALAYA (The Best Power Plant > 100 MW)

13. PT. PJB SERVICES ( The Best O&M Company

14. PT. PP (PERSERO) TBK (The Best EPC Company)

15. PT. INDONESIA POWER (The Best Power Plant Company)


Tumiran berharap, IBEA 2017 akan lebih mendorong perusahaan di bidang industri ketenagalistrikan nasional berkomitmen untuk menunjukkan jati dirinya dan secara berkesinambungan memperkuat struktur industri ketenagalistrikan di Tanah Air untuk menuju kepada kemandirian energi.

“Program penghargaan kelistrikan ini memberikan apresiasi kepada para pelaku usaha terbaik di bidang pembangunan, pengelolaan, dan penyediaan listrik, baik dari sisi pembangkitan, transmisi maupun distribusi serta sub sektor lain yang terkait dengan industri ketenagalistrikan,” pungkas Tumiran.

Kehadiran Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan untuk memberikan award langsung kepada pemenang IBEA 2017 menambah kemeriahan dan kebanggaan bagi para pemenang.Dalam pidatonya ia mengungkapkan bahwa Pemerintah terus mengembangkan energi bersih untuk pembangkit listrik sebab selain ketersediaan kapasitas, pemerataan dan tarif yang terjangkau, Pemerintah juga fokus untuk mendorong pemanfaatan energi bersih untuk kelistrikan. Hal ini sejalan dengan target pemanfaatan Energi Baru Terbarukan (EBT) untuk kelistrikan Indonesia yang sebesar 23 persen di tahun 2025. 

"Untuk kelistrikan, Pemerintah fokus pada tiga hal. Satu adalah ketersediaan kapasitas, kedua pemerataan distribusi atau biasa disebut electrification ratio yang merata, dan ketiga tarifnya terjangkau. Pemerintah juga sepakat yang keempat adalah clean energy (energi bersih)," jelas Jonan.

"Ke depan, Pemerintah tetap mendorong agar energy mix (bauran energi yang berasal dari EBT) 23 persen mudah-mudahan bisa tercapai tahun 2025 untuk kelistrikan," lanjutnya.

Pemerintah juga mulai mendorong  penggunaan kendaraan listrik untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor Bahan Bakar Minyak (BBM).

Jonan mengungkapkan bahwa saat ini konsumsi BBM mencapai 1,6 hingga 1,7 juta barel per hari (bph), sementara produksi dalam negeri sekitar 800 ribu bph. Jika pola ini tidak dirubah, Jonan memperkirakan 10 hingga 20 tahun ke depan, impor BBM mencapai 1,4 juta bph.

"Bapak Presiden juga mendukung adanya penciptaan atau mulai digunakannya kendaraan listrik, ini juga sejalan dengan semangat ketahanan energi, yaitu semaksimal mungkin menggunakan energi yang dihasilkan dari dalam negeri. Kalau kita mengandalkan BBM, konsumsi dalam negeri 1,6 sampai 1,7 juta barel per hari (bph), produksi 800 ribu bph, impor satu hari 800 ribu sampai 900 ribu bph, Kira-kira bagaimana 20 tahun ke depan? Kalau bisa sama, saya terima kasih. Kalau kita biarkan, tidak menggunakan kendaraan listrik, mungkin dalam 10 tahun sampai 20 tahun ke depan impornya akan naik. Kalau di-nett, impor dikurangi produksi kita, bisa 1,3 sampai 1,4 juta bph impornya," tegas Jonan.

Kendaraan listrik serta peralatan rumah tangga yang menggunakan listrik, energi primernya banyak dihasilkan di dalam negeri, mulai dari batubara, gas bumi dan EBT. "Ini yang kami dorong, pengembangan kelistrikan makin lama makin bisa digunakan oleh masyarakat dengan tarif yang terjangkau," jelasnya.

Khusus pengembangan energi terbarukan, Jonan menyampaikan bahwa sejak awal tahun hingga saat ini, 1.186 Megawatt (MW) pembangkit listrik yang energi primernya bersumber dari EBT telah ditandatangani. Hingga akhir tahun, kapasitasnya diharapkan mencapai 1.500 MW.

"Banyak yang kasih masukan ke saya, tapi faktanya dari Januari sampai bulan November, IPP (Independent Power Producer/perusahaan pengembang listrik swasta) energi terbarukan yang ditandatangani dengan PLN itu 1.186 MW, ini banyak sekali. Saya kira 'ga pernah ada satu tahun kerja di Indonesia yang bisa lebih dari 1.000 MW pembangkit energi terbarukan yang ditandatangani. Mudah-mudahan sampai penutupan tahun bisa kira-kira mencapai 1.500 MW dan kita dukung terus," pungkas Jonan. (adi)

ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small

Job Posting

No job posted

Oil Price

Exchange Rate

All Category