Event

Hivos Tekankan Pentingnya ET Dalam Pembangunan Nasional

img title

Jakarta, petroenergy.id -- Hivos berkolaborasi dengan berbagai mitra ingin mengimplementasikan program TERANG (Investing in Renewable Energy for Rural, Remote Communities) dalam hal pengadaan ET. Di akhir tahun 2017, program ini telah menyediakan akses listrik bagi 26 kabupaten di Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Selatan. Melalui proyek TERANG, sebanyak 5.079 rumah tangga menggunakan energi terbarukan, 25 sekolah memiliki sumber energi terbarukan, 60,68 KW tenaga listrik dihasilkan dari PV solar, dan rasio elektrifikasi Pulau Ikonik Sumba di NTT meningkat dari 24,5 persen (2010) menjadi 42,67 persen (2017).


Direktur Regional Hivos Asia Tenggara, Biranchi Upadhyaya, menekankan pentingnya energi terbarukan dalam pembangunan,“Proyek kolaborasi seperti TERANG memegang peranan penting dalam memperluas cakupan energi terbarukan secara off-grid, menjangkau masyarakat di desa terpencil, serta meningkatkan mata pencaharian mereka melalui pemakaiannya," katanya dalam acara Acara Pembelajaran Nasional “Terangi Nusantara” di Jakarta, belum lama ini.

Itulah sebabnya proses akses ET haruslah inklusif dan dapat diakses seluruh masyarakat. Dari lingkup nasional, sampai saat ini, 1,2 miliar orang telah mendapatkan akses koneksi dari jaringan utama sejak tahun 2000, dimana 80 persen dari mereka memperoleh akses melalui koneksi ke jaringan utama, yang mayoritas berasal dari bahan bakar fosil (45 persen batubara, 19 persen gas alam dan 7 persen minyak)1. Pada September 2017, Indonesia mencapai 93,08 persen rasio elektrifikasi, dimana hampir semua wilayah dari Aceh sampai Sulawesi memiliki rasio elektrifikasi di atas rata-rata 70 persen. Sementara di Nusa Tenggara Timur rasio elektrifikasi hanya mencapai 58,99 persem dan bahkan Papua hanya memiliki rasio ketahanan listrik sebesar 48,91 persen.2 Fakta ini menunjukkan bahwa di Indonesia layanan energi belum inklusif.


“Salah satu pembelajaran dari Sumba adalah pentingnya kerjasama dan kemitraan berbagai pemangku kepentingan dalam menghasilkan energi yang inklusif. Kita tidak bisa memenuhi kebutuhan masyarakat hanya dengan Solar Home System dan koneksi jaringan listrik. Pompa air tenaga surya membutuhkan strategi pendanaan yang berbeda, begitu pula dengan instalasi biogas. Usaha untuk menggandeng berbagai badan dan instansi keuangan nasional dan internasional masih harus dilanjutkan supaya lebih banyak daerah terpencil yang bisa dijangkau,” ujar Eco Matser, Koordinator Perubahan Iklim, Energi, dan Pembangunan Hivos.

Data Indonesia Clean Stove Initiative tahun 2016 menunjukkan sebanyak 40 persen (sekitar 24,5 juta jiwa) populasi Indonesia masih bergantung pada biomasa tradisional untuk memasak. Ini berarti akses layanan energi yang memadai, andal, dan bersih belum tersedia untuk semua kalangan publik. (adi)

ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small

Job Posting

No job posted

Oil Price

Exchange Rate

All Category