CSR

Gotong Royong Membangun Masjid di Tokyo

img title

Tokyo, petroenergy.id -- Sejak diresmikan oleh Duta Besar Republik Indonesia (RI) untuk Jepang dan Mickronesia, Arifin Tasrif, pada hari Jumat, 26 Mei 2017 yang lalu, keberadaan Masjid Indonesia Tokyo (MIT) telah banyak dirasakan manfaatnya. Walau sempat terhambat masalah dana, akhirnya dengan gotong royong berbagai pihak bisa diselesaikan pembangunannya.

Firman Bagja Juangsa (31), Ketua Panitia Pembangunan MIT, menjelaskan bahwa masjid ini adalah milik bangsa Indonesia yang pertama di Jepang.  MIT diprakarsai sejak delapan belas tahun lalu oleh Keluarga Masyarakat Muslim Indonesia (KMII) Jepang. Letaknya di lahan seluas 200 meter persegi, bersebelahan dengan gedung SRIT (Sekolah Republik Indonesia Tokyo), di kawasan Meguro, Tokyo.  

MIT dibangun sebanyak 3 lantai dengan total kapasitasnya mencapai 250 orang. Pada lantai basement dikhususkan bagi jemaah wanita, dengan fasilitas antara lain; kamar mandi, toilet difabel, tempat wudhu dan penitipan sandal atau sepatu. Di lantai ini terhubung dengan pintu ruang Pusat Kebudayaan Indonesia di Gedung SRIT.

Untuk lantai 1 dan 2 dikhususkan bagi jemaah laki-laki. Di lantai 1 terdapat pintu masuk utama masjid, tempat wudhu, kamar mandi, toilet difabel, penitipan sandal atau sepatu. Di lantai 1 terhubung dengan pintu aula SRIT sehingga bisa menampung jemaah shalat lebih banyak. Ada juga mihrab untuk imam memimpin sholat dan mimbar untuk ceramah. MIT juga dilengkapi monitor TV di lantai basement dan lantai 2 agar jemaah bisa melihat penceramah.

Dari sisi konstruksi fisik, MIT telah disesuaikan dengan desain standar keamanan lokal yang sangat waspada terhadap gempa. Pondasi dan rangka bangunan menggunakan beton cor tahan goncangan namun fleksibel. Untuk interior, MIT juga menggunakan material yang aman jika terjadi gempa.

“Fasilitas dan interior MIT tergolong sangat lengkap, aman, lux dan ramah pada difabel. Kita penuhi semua persyaratan lokal untuk konstruksinya. Bahkan struktur bangunan ditargetkan tahan sampai berumur 200 tahun,” jelas Firman, yang juga menjabat sebagai Kepala Humas  (Hubungan Masyarakat) KMII, kepada petroenergy.id, lewat hubungan telepon dari Tokyo, Kamis (21/12).

 “Jadi Alhamdulillah sekarang kita punya MIT. Tapi jangan lupa, ada perjuangan yang dilewati sejak awal ide pembangunannya di tahun 1999,” imbuhnya.

Firman menuturkan, perjuangannya tak lain adalah soal pendanaan, dimana setelah enam tahun mengumpulkan dana, panitia baru berani melaksanakan proses lelang untuk konstruksi dan desain di tahun 2015. Setelah mendapatkan pemenang lelang yaitu ESPAD untuk desain dan EIKOU untuk konstruksi, pada awal proyek pembangunan dilakukan peletakan batu pertama oleh Duta Besar RI untuk Jepang, Yusron Ihza Mahendra, pada hari Kamis, 11 Juni 2016.

Di tengah pengerjaan proyek, terjadi masalah kenaikan biaya material bangunan. Hal ini merupakan efek dari ajang Tokyo Olympic tahun 2020 nanti, yang menjadikan material bangunan menjadi mahal. Imbasnya, diperkirakan panitia tidak bisa membayar biaya pada kontraktor karena jumlah dananya kurang. Asumsi ini bersumber dari hasil grafik wakaf dan analisa akselerasi jumlah wakaf yang disimpulkan hanya akan mencapai 145 juta yen Jepang, pada bulan April 2017. Dari jumlah tersebut tidak cukup menutup biaya konstruksi fisik, interior, dan jasa desain.

“Intinya setelah dihitung maka total dana yang dibutuhkan mencapai 188 juta yen Jepang  atau sekitar Rp 22 miliar. Dari yang dikumpulkan saat itu masih ada selisih kekurangan,” ujarnya.

Tak patah semangat, panitia melakukan upaya penggalangan dana tambahan lewat pengiriman proposal, berbagai inovasi kampanye, baik lewat website resmi, info dan status di sosial media. Panitia juga membuat vlog dimana mantan Wakil Ketua KPK (Komisi Pemberatasan Korupsi), Bambang Widjojanto didaulat menjadi juru kampanyenya.

Maka disetiap kesulitan ada jalan kemudahan dan Tuhan YME (Yang Maha Esa) pun menjawab doa serta ikhtiar hambaNya. Akhirnya berbagai pihak dari mulai WNI (Warga Negara Indonesia) di Jepang atau di Indonesia, perusahaan BUMN (Badan Usaha Milik Negara), sampai perusahaan swasta nasional menyatakan bersedia menjadi donator.

“Singkat kata, ada tambahan donasi lebih dari Rp 1 miliar dari crowdfunding dan transfer bank di Indonesia. Tak ketinggalan perusahaan BUMN dan perusahaan swasta nasional juga bergotong royong jadi donatur. Diantara yang paling besar adalah PT Pertamina yang menyumbang Rp 1 miliar dan PT Astra International yang menyumbang Rp 5 miliar. Subhanallah,” tuturnya.

Kemudian pada bulan Maret 2017, panitia melakukan penukaran kurs mata uang yang didapat. Tercatat jumlah dana terhimpun mencapai 196,5 juta yen Jepang. Ini melebihi kebutuhan proyek sebesar 188 juta yen Jepang. Dari gotong royong donasi ini semua biaya proyek konstruksi dan desain MIT lunas dibayar pada kontraktor. Bahkan panitia saat ini sudah memutuskan menutup donasi untuk hal pembangunan MIT.

"Pertolongan Allah SWT nyata jika kita ingin membuat kebaikan di bumiNya. Kami bersyukur banyak hati tergerak membantu, baik dari individu dan perusahaan. Kami berterima kasih untuk hal ini," tegasnya.

Sarana Dakwah dan Silaturahmi

“Sebelum ada MIT, ibadah shalat dilakukan di musholla kecil di dalam SRIT. Untuk Shalat Jumat dan kegiatan besar lainnya terpusat di Aula Balai Indonesia. Setelah ada MIT tak hanya ibadah, proses akad pernikahan juga dapat dilakukan disini,” jelas Firman.

Ditambahkannya, MIT sering mandapat kunjungan warga Jepang baik pribadi maupun organisasi. Mereka ingin melihat proses ibadah serta melakukan tanya jawab tentang Islam dan Indonesia.  Alhasil, MIT sudah menjadi tempat dakwah terhadap masyarakat lokal Jepang dimana tercatat sudah ada 1 orang warga Jepang yang menjadi mualaf.

MIT juga menambah kemudahan bagi turis muslim dari mancanegara yang sedang di Tokyo, utamanya dalam mencari tempat Sholat Jumat. Tapi selain tempat badah, MIT kerap dijadikan titik silaturahmi antar WNI di Jepang, bahkan bagi para pejabat.

“Contohnya pada Ramadhan tahun 2017, Wakil Presiden Jusuf Kalla dan beberapa Menteri Kabinet Gotong Royong sempat Shalat Tarawih dan silaturahmi di MIT,” tandas Firman.

Sementara itu, Mahasiswa Studi Program Doktoral di Departement Civil Engineering, University of Tokyo, Tandang Yuliadi (38), menceritakan, MIT belum selesai dibangun saat ia datang ke Tokyo akhir September 2015 lalu. Jadi biasanya ia selalu Sholat Jumat di Masjid lain seperti Masjid Camii milik Pemerintah Turki, Masjid Assalam di Okachimachi, maupun Masjid Otsuka.

“Karena sekarang sudah ada MIT, saya lebih sering kesini karena bisa sekalian silaturahmi. Apalagi saya lihat cukup banyak yang datang kesini jauh-jauh dari bagian lain di Tokyo,” katanya kepada petroenergy.id, juga dalam wawancara lewat telepon dari Tokyo, Kamis (21/12).

Silaturahmi dan berkenalan, ungkap Tandang, biasanya selepas sholat atau acara pengajian. Menurutnya, ada kepuasan batin beribadah di MIT karena bisa mengobati kerinduan akan suasana di tanah air. 

"Semoga semangat gotong royong pada pendirian MIT dan nikmat silaturahmi dari Tokyo ini bisa menginspirasi WNI di Negara lain. Tapi yang paling penting diwujudkan oleh kita sendiri di Tanah Air,” tukasnya. (adi)

 

ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small

Job Posting

No job posted

Oil Price

Exchange Rate

All Category