Profile

Dan Wieczynski: Investasi Hulu Migas Indonesia Masih Menarik

img title

Jakarta, petroenergy.id -- Walau pada  tahun  ini, boots Exxon Mobil Indonesia lebih kecil dari tahun-tahun sebelumnya, tapi bagi President Exxon Mobil Indonesia,  Daniel  Wieczynski, menilai  IPA Convex tahun 2017 ini tetap meriah dan menarik. Termasuk untuk  berinvestasi sektor hulu migas Indonesia.

 "Kami tetap melihat event ini menarik karena event migas ini terbesar di Indonesia.  Event tahunan ini dinilai bersejarah dan  banyak mengedukasi bangsa Indonesia.  Jangan sampai event ini  ditiadakan walau dalam kondisi apapun,’ kata Dan (sapaan akrabnya) kepada petroenergy belum lama ini di perhelatan IPA (Indonesia Petroleum Association) Convex 2017.

Dan menuturkan, di event ini ada berapa isyu yang menjadi pembicaraan komunitas migas. Diantaranya adalah menurunnya harga minyak dunia yang berimplikasi terhadap penuurunan kegiatan eksplorasi dan pengembangan migas.

“Isyu lain yang tak kalah menarik adalah skema bagi hasil gross split. Namun demikian, isyu itu saya yakin tak mempengaruhi kinerja dan investasi Exxon di Indonesia.  Sebab investasi migas ini adalah untuk jangka panjang," tambahnya.

Apalagi saat ini Exxon tetap investasi besar seperti; Vietnam  Malaysia, Singapura termasuk Indonesia. "Jadi Intinya Exxon tak putus asa di Indonesia sebab dari dulu sampai sekarang kami tetap melihat Indonesia menarik," ungkap Dan.

Kemudian dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5% dinilai masih dianggap menarik oleh investor. Kondisi itu yang menyebabkan masih banyak negara memilih Indonesia sebagai tujuan investasi. Walaupun diakuinya juga dalam kegiatan hulu migas saat ini mengalami krisis disebabkan tidak ada eksplorasi, sehingga tidak ada penemuan cadangan minyak baru.

“Untuk mengatasi itu Pemerintah perlu membuat  benchmarking daya tarik iklim investasi. Dengan cara demikian, bisa dirumuskan kebijakan yang lebih atraktif. Jika ada benchmarking di Indonesia nantinya akan masuk capital yang besar, sehingga bisa memberikan sumbangan  ke sektor yang lain (multiplier effect-Red) dan menciptakan kemakmuran,” katanya.

Ditambahkannya, : “Saya yakin ini tak hanya masalah minor saja seperti masalah cost recovery. Sebab production cost di Indonsia sudah  kompetitif sebanyak 2 dollar. Jadi seharusnya kebijakan keuangan harus bisa membuka kesempatan dan kompetitif dengan negara lain agar return jelas bagi share holder.

Asal tahu saja, sebelum memimpin di ExxonMobil Indonesia, Dan tergabung di Exxon Company di kilang Baton Rouge, Amerika Serikat, pada 1990 Selama 25 tahun bergabung dengan ExxonMobil, Dan telah menempati berbagai posisi senior teknis dan eksekutif di berbagai negara, termasuk di Italia, Inggris, Australia, dan penugasan terakhir sebagai Senior Vice President pada ExxonMobil Cepu Limited dan Project Executive untuk proyek Banyu Urip di Indonesia.(adi)

ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small

Job Posting

No job posted

Oil Price

Exchange Rate

All Category